5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama Republik Indonesia
 

 oleh : Hanik Rosyada


        Masyarakat madani berbudaya menjadi impian setiap insan. Untuk mewujudkannya diperlukan langkah nyata, dimana langkah ini perlu koordinasi dari setiap komponen masyarakat. Yogyakarta sebagai  Daerah Istimewa memiliki budaya dan peradaban yang berbeda dengan provinsi lain.

            Masyarakat madani ( dalam bahasa Inggris : civil society) adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, masyarakat demokratis,  yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kata madani diadaptasi  dari bahasa Arab yang memiliki arti “beradab”. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Anwar Ibrahim, mantan wakil perdana menteri Malaysia menyatakan bahwa masyarakat madani adalah suatu sistem sosial yang subur berlandaskan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kestabilan masyarakat dengan kebebasan individu.

            Menurut Nurcholis Madjid  pengertian masyarakat madani adalah merujuk pada masyarakat Islam yang pernah dibangun oleh Nabi Muhammad saw di Madinah denga ciri : kesederajatan, keterbukaan, toleransi, musyawarah dan menghargai prestasi.

            Kebudayaan pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi manusia. Manusia sebagai makhluk berbudaya senantiasa menggunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia adalah suatu perbuatan yang baik, benar dan adil. Masyarakat madani berbudaya diharapkan bisa diwujudkan dalam komunitas masyarakat Indonesia. Dimulai dari komunitas keluarga, RT, RW, Padukuhan, Kalurahan, Kecamatan/Kapanewon, Kabupaten hingga tingkat Nasional dan internasional. Agar lebih fokus tulisan ini bisa menjadi acuan untuk menggerakkan keluarga sebagai masyarakat terkecil di padukuhan. Padukuhan di pimpin oleh Bapak dukuh yang  berkoordinasi dengan ketua RW dan RT maka program ini bisa di mulai . Kenapa dengan gerakan literasi?

            Gerakan Literasi saat ini menjadi gerakan yang terus disosialisasikan pada setiap lapisan masyarakat. Dinas pendidikan Kabupaten Sleman menggerakan program ini dengan gerakan Jam Belajar Masyarakat ( JBM ). JBM bisa eksis bila masing-masing keluarga dalam masyarakat itu ada kesadaran pentingnya literasi.  Literasi berbasis masyarakat. Dimulai dengan sosialisasi JBM ke segenap tokoh masyarakat di tindaklanjuti dengan nota kesepakatan atau surat pernyataan dari seluruhwarga untuk melaksanakan progra JBM.

            Keluarga sebagai pusat pendidikan yang pertama bagi seorang anak, sejak anak lahir bahkan sebelum anak lahir seorang ibu sebaiknya sudah mentradisikan literasi dalam aktifitas hariannya. Setiap tanggal  23 Juli kita memperingati Hari Anak Nasional. Peringatan Hari Anak Nasional merupakan ide cemerlang dari Bapak Soeharto Presiden RI yang ke 2. Beliau memandang bahwa anak adalah asset besar bagi kemajuan bangsa, sehingga pada tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 tahun 1984 ditetapkan bahwa tanggal 23 juli sebagai Hari Anak Nasional ( HAN ).  Bisa menjadi HANIK bila ditambahkan dengan Islam dan Kaffah. Tahun ini peringatan Hari Anak dilaksanakan secara daring karena pandemi COVID, senang ikut membuka chanel peringatan HAN bersama  Presiden RI Bapak Ir. Jokowi saat ada anak yang bertanya Presiden itu kerjaannya   apa saja ? Beliau menjawab memantau pembangunan dari Aceh sampai Papua dst. Jawabannya ada yang terlupakan yaitu bahwa jadi presiden harus suka baca. Semestinya peringatan HAN dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak agar tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal dengan cara mendorong setiap keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan dan pengayoman kepada setiap anak agar menghasilkan generasi calon penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air.

            Profil tokoh-tokoh unggul mayoritas produk dari generasi literat, untuk mendapatkannya kita harus berusaha menciptakan lingkungan yang kondusif dalam keluarga. Gerakan Literasi Keluarga  merupakan langkah untuk mengembalikan peran anggota keluarga untuk memaksimalkan sumber daya manusia yang dimiliki guna mengembangkan karakter dan kesuksesan akademik pada setiap anak. Kegiatan gerakan literasi keluarga berupa komitmen dari setiap anggota keluarga untuk mencintai ilmu pengetahuan. Mulai dari membiasakan membaca Al quran, buku, majalah, menulis, memilih tontonan dan bacaan yang baik, berdiskusi serta berbagai kegiatan lain yang menunjang pengembangan diri setiap individu yang ada dalam keluarga. Dimasa pandemi ini orangtua punya peran lebih karena anak harus Belajar Dari Rumah ( BDR ) didampingi ayah bundanya di rumah. Orang tua jadi tahu dan ikut merasakan bagaimana peran seorang guru karena ikut mengalami saat mendampingi putra putrinya belajar. Harus sabar dan telaten. Harapannya bukan hanya saat pandemi saja ayah bunda mendampingi tetapi seterusnya sampai putra putrinya mampu mandiri belajar. Apalagi sekarang semua serba digital, perlu pendampingan dan monitoring lebih ketat. Lengah sedikit saja kita menaruh HP anak-anak sudah membuka game dan tayangan yang tidak layak disaksikan anak-anak. Harapannya dari keluarga memunculkan anak-anak yang unggul, mencintai ilmu pengetahuan, mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif mampu bersaing dalam persaingan global pada masa kini dan masa yang akan datang. Kerjasama yang kompak dalam keluarga akan menghasilkan prestasi yang maksimal, saling membantu, kerjasama, saling melengkapi. Karena tidak ada manusia yang sempurna.

            Budaya keluarga literat dimulai dari individu yang literat, ayah bunda sebagai sosok teladan dalam keluarga, mari sempatkan membaca Al quran setiap habis shalat minimal sehabis shalat maghrib dan subuh, membaca buku dan majalah. Insya Allah anak-anak dalam keluarga kita akan mengikuti tradisi ayah bundanya. Saat-saat luang kegiatan baca dan tulis kita usahakan. Saat belajar bersama kita offkan dulu TV kita atau kita programkan keluarga tanpa tayang TV. Sisihkan anggaran setiap bulan untuk beli buku baru, taruh ditempat strategis agar anak-anak juga tertarik membaca. Bagus juga bila kita mendesain satu ruangan dalam rumah kita untuk taman pustaka/perpustakaan keluarga. Di desain yang menarik, estestis, dan cantik, sehingga anak-anak kita nyaman dan betah membaca dan menulis serta berkreasi diruang itu. Lengkapi sarana prasarananya, rak buku, meja dan kursi untuk membaca atau lesehan, kipas angin agar tidak panas, fasilitas wifi dalam rumah dan poster-poster gerakan suka baca di ruang literasi kita. Insya Allah dengan usaha ini akan mengantarkan anak-anak yang unggul. Bila dalam satu padukuhan ada 6-10 rumah  yang  mentradisikan gerakan ini maka masyarakat madani akan terwujud. Aku suka KACA CITA (Suka Baca Kunci Meraih Cita-cita ). Semoga Allah meridhoi. Aamiin YRA.

 

TETAP BERKARYA DIMASA PANDEMI

Oleh : Hanik Rosyada

Merebaknya  pandemi Covid-19 di negeri tercinta Indonesia membuat kaget seluruh lapisan masyarakat. Dari rakyat sampai pejabat. Dari lurah di desa sampai gubernur di ibu kota. DKI cepat tanggap, diberlakukan PSBB. Hari Jumat 13 Maret 2020 Presiden RI Ir Joko Widodo menyatakan Indonesia darurat covid-19 dengan menanda tangani Keputusan Presiden Nomor 7 tahun 2020 tentang penanganan Covid-19. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan dan Kementerian Agama menginstruksikan program Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ ) dengan cara Belajar Dari Rumah ( BDR ).

Hari Rabu, 18 Maret 2020 merupakan awal kita sebagai ASN Kementerian Agama melaksanakan Work From  Home ( WFH ) kerja dari rumah. Di rumah kita berkarya, di kampung bersama masyarakat dikomamandani dukuh dan tokoh masyarakat juga mulai di bentuk tim satgas dusun yang melaksanakan kegiatan lock down, menutup gerbang kampung. Agar warga tidak keluar rumah dan menyeleksi orang luar yang mau masuk kampung kita. Karang taruna semangat ada di barisan terdepan, menyiapkan palang jalan, penyemprotan disinfektan di seluruh kampung, menyiapkan hand sanitizer, ember berkran dan sabun untuk cuci tangan bila masuk kampung termasuk pencatatan tamu-tamu yang berkunjung dengan batasan waktu. Tugas penjagaan di gerbang padukuhan dilaksanakan oleh warga dan karangtaruna secara terjadwal tertib, melibatkan semua unsur masyarakat.

            Tugas kepengawasan yang sebelumnya berjalan normal dengan cara konvensional tatap muka, tiba-tiba harus berubah dalam jaringan (daring) on line  karena tidak dapat melakukan kunjungan langsung ke sekolah. Di sisi lain dengan adanya pandemi ini juga memunculkan peluang perubahan dan tugas baru. Pengawas mulai mencari cara baru untuk melakukan tugas kepengawasan. Pengawas harus tetap dekat dengan guru, mendampingi dan membina dalam melaksanakan tugas di sekolah.

Hasil monitoring kepengawasan terhadap pembelajaran guru mayoritas guru-guru mitra melaksanakan tugas pembelajaran melalui Whatts App dengan memberikan tugas untuk membaca materi kemudian mengerjakan soal yang ada dalam LKS cukup banyak dan melelahkan. Melihat kondisi tersebut memacu saya untuk meningkatkan kompetensi pembelajaran masa pandemi Covid-19 dengan  bergabung ikut Webinar yang dilaksanakan oleh PGRI pusat selama 18 hari sejak tanggal 2 Mei 2020 sampai 20 Mei 2020. Setiap hari didepan laptop dari jam 08.00-16.00. Di akhir setiap sesi harus mengerjakan soal evaluasi untuk mendapatkan sertifikat.

Kegiatan webinar setelah ucapan selamat datang dari pengurus besar PGRI dilanjutkan dengan materi Self-Driving for Teachers oleh Prof. Rhenald Kasali dan Prof. Unifah Rosyidi, luar biasa dua tokoh ini memotivasi guru untuk tetap belajar mandiri bagi bapak ibu guru. Sumber belajar ada di mana-mana, tergantung kita mau mengambil kesempatan ini atau tidak. Motivasi juga setiap hari harus kita bangun baik itu intrinsik dari dalam kita sendiri maupun ekstrinsik dari luar diri kita, salah satunya dengan mengikuti pelatihan on line, workshop on line dan webinar.

Materi yang kedua Youtube untuk pendidikan oleh M. Yahya.M.Kom. Di dunia digital banyak conten-conten edukasi di youtube, kita bisa belajar dari situ dan bisa membuat conten itu sesuai dengan spesifikasi kita. Dari situ terinspirasi bagi saya membuat video-video pembelajaran dan  upload di  youtube dalam chanel Hanik Rosyada dengan tema-tema edukasi dan religi. Saat ini ada 20 video edukasi yang bisa kita simak :

1.      KULANI- Salam Era Korona

2.      Menjadi Generasi Prestatif Bersama SMK N Seyegan

3.      Sapa GPAI Virtual Kemenag DIY

4.      Menjadi Guru Profesional Di Era Digital Bersama AGPAII

5.      Doa untuk Ibu

6.      One Meet One Word

7.      Prepare New Normal

8.      Salam Merdeka dari Bumi Para Nabi

9.      Mengenal Asesmen Nasional

10.  Menanamkan Jiwa Kepemimpinan pada Anak

11.  Puisi untuk Guru

12.  Idul Fitri di Tengah Pandemi

13.  Mari Menyusun RPP Merdeka Belajar

14.  Kisah Kasih Ibrahim, Bapak Para Nabi

15.  Pola Asuh Anak Era Adaptasi Kebiasaan Baru

16.  Moderasi Beragama di Sekolah dan Madrasah

17.  Belajar dari Rumah tetap Menyenangkan

18.  Islam Rahmatan lil Alamiin

19.  Mewujudkan Generasi Unggul Berkarakter

20.  Rumahku Sekolahku

21.  Pembelajaran Edutainment

 

Video edukasi ini disusun sebagai salah satu upaya mendampingi guru agar tetap semangat melaksanakan tugas di masa Belajar Dari Rumah (BDR), bapak ibu guru juga saya motivasi untuk mewujudkan karyanya dengan membuat video edukai. Ada beberapa guru yang sudah aktif membuat dari jenjang SD. Bu Thifal Mufidah, S.Pd. dari SD N Ngijon 3 Moyudan ada 43 video. Ibu Purwaningsih, S.Pd. dari SD Pendekan Seyegan, Ibu Ervina Yulaida Anis, M.Pd.I dari SD N Cebongan Mlati, Ibu Siti Amanah dari SD Muhammadiyah Semingin, Ibu Khalim Mar’ati dari SD N Nglengking   dan yang lainnya. Dalam program pembinaan guru juga kita laksanakan bina virtual guru PAI melalui tatap maya zoom meeting cloud dan google meet, google form meskipun belum semua guru bergabung karena kendala sinyal dan lainnya, namun hal itu menjadi tetap menjadi pengalaman bapak ibu guru pernah belajar bersama secara virtual.

Pandemi covid-19 bukan halangan untuk berkarya, justru ada banyak kesempatan bagi kita untuk mengembangkan diri. Bersama keluarga di rumah saling memotivasi saling menghargai dan mengapresiasi. Menurut sumber dari UNESCO sebanyak 90% populasi siswa harus belajar di rumah selama pandemi covid-19 ini sekitar 1.3 milyar anak setiap hari belajar di rumah bersama keluarga, sehingga guru di tuntut  kreatif berkomunikasi dengan siswa dan orang tua wali murid, memberikan materi pembelajaran dan tugas-tugas yang menyenangkan agar siswa gembira sekaligus menyampaikan pesan-pesan protokol hidup sehat masa pandemi covid-19. Terkadang anak-anak merasa bosan dengan suasana rumah yang monoton, itu-itu saja. Orang tua pun juga pusing bagaimana caranya agar putra putrinya nyaman dan fokus dalam belajar, sementara dia masih punya tugas juga untuk mencukupi kebutuhan keluarga mencari nafkah.

Suasana rumah kadang juga kurang kondusif untuk belajar, tidak ada ruangan khusus untuk belajar yang didesain nyaman, sirkulasi udara baik dan bersih, penerangan cukup, jauh dari TV agar lebih fokus untuk belajar. Ini menjadi tantangan bagi guru bagaimana agar selama BDR , para siswa belajar dengan senang mengerjakan tugas-tugas dengan gembira. Buku monitoring amalan yaumiyah yang diprakarsai oleh KKG PAI Kabupaten Sleman menjadi salah satu media untuk pengambilan nilai sikap dan ketrampilan.

Materi berikutnya dari Webinar PGRI adalah Konsep Guru milenial  berlaku untuk semua guru, usia bukan hambatan yang penting niat dan langkah nyata. Bersama guru millenial “Bisa”.  Corona merubah mindset pentingnya integrasi antara literasi, skill pasport dan life skill education. Untuk menjadi guru profesional kita harus rajin baca, baik on line maupun off line. Budaya literasi kita tumbuhkan sebagai budaya keistimewaan DIY harus dipupuk setiap saat, dikembangkan dalam kondisi apapun. Perubahan tata kehidupan yang kita alami bagus dituangkan dalam narasi. Di coba apa yang sudah di baca sehingga menjadi ketrampilan kita utamanya media-media berbasis edukasi. Apa yang sudah kita paparkan dalam tulisan, apa yang sudah kita rekam dalam video akan menjadi amal jariah untuk anak cucu kita. Ilmu yang bermanfaat sangat di nanti generasi kreatif dan inovatif.  Harapannya guru bisa melaksanakan tugas membimbing siswa Membangun karakter peserta didik dengan pembelajaran berbasis Edutainment, menghibur namun tetap edukatif, silahkan  baca buku “ Membangun Karakter Peserta Didik dengan Pembelajaran Berbasis Edutainment Masa PJJ” karya Hanik Rosyada.

Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan berpikir dan kebiasaan berbuat yang dapat membantu orang-orang hidup dan bekerja sama sebagai keluarga, sahabat, tetangga,masyarakat dan bangsa. Pendidikan karakter untuk mengembangkan karakter mulia ( good character ) dari peserta didik dengan mempraktekkan dan mengajarkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradab dalam hubungan dengan sesama maupun hubungan manusia dengan Allah sebagai pencipta dan kita punya tugas untuk menghamba. Kepada sesama manusia kita punya kewajiban untuk saling tolong menolong. Di era pandemi covid ini kita gerakkan lembaga pendidikan kita untuk peduli saudara yang terpapar covid, baik yang positif di rawat di rumah sakit maupun yang di karantina atau isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Pendidikan karakter menjadi tugas utama guru PAI, minterke bocah itu lebih mudah dari pada membangun karakter anak, kata Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman saat kami audiensi ke kantornya. Beliau berharap GPAI bisa mewarnai perilaku dan karakter peserta didik. Kompetensi inti yang meliputi kompetensi spiritual, sosial, pengetahuan dan ketrampilan harus sejalan. Tidak boleh ada yang terlena, bahkan hanya mengedepankan aspek pengetahuan saja. Itu tidak boleh. Sehingga di masa pandemi covid-19 ini guru tetap harus menyapa peserta didik minimal 1 x dalam seminggu. Kita tanyakan aktifitas hariannya dan kita motivasi agar peserta didik tetap semangat, sehat dan bahagia bersama keluarga. Semoga wabah ini segera berlalu. Program vaksin covid-19 segera merata ke seluruh warga termasuk anak-anak usia sekolah, bapak ibu guru dan seluruh tenaga kependidikan.

Ada beberapa dampak yang muncul akibat pandemi. Dengan pembelajaran jarak jauh peserta didik makin banyak duduk manis di depan layar maya. Kita asumsikan bahwa orang dewasa dan orang tua sudah mampu untuk memposisikan dirinya dalam menghadapi perubahan yang ada sehingga peserta didik tidak perlu untuk dibimbing maupun dikhawatirkan lagi. Yang menjadi masalah adalah kemampuan anak-anak dan remaja untuk turut serta dalam perkembangan social media di era ini. Anak-anak mana yang tidak mengenal facebook? Twitter? Instagram? Mungkin memang masih ada, tapi mayoritas tentu telah mengenal dan bergabung dalam platform-platform tersebut. Seberapa besar perbandingan waktu yang dihabiskan untuk berselancar di dunia maya dengan hanya sekedar membaca buku sekolahnya? Kecil, tidak sebanding.

Kecenderungan anak-anak dan remaja masa kini adalah reaktif, tidak proaktif. Dalam artian mereka lebih suka disuapi, lalu ditelan atau justru berkomentar, daripada mereka mencari sendiri sesuatu yang mereka tertarik atas hal tertentu. Hal ini menyebabkan wawasan remaja juga terbatas pada apa yang dihadapkan dengannya. Sementara kehidupan dan perhatian remaja cukup banyak tersita pada gemerlapnya dunia maya, atau kasarnya kita katakan kehidupan seleb-seleb masa kini. Apa yang menjadi trending infotaiment, itulah pengetahuan khalayak ramai. Kembali lagi, reaktif bukan proaktif.

 

 

Biodata  penulis:   

Hanik Rosyada, lahir di Sleman,  12 September 1968. Ibu dari 4 orang  putri. Saat ini tinggal di Padukuhan Parakan Wetan RT 04/RW 21  Sendangsari Minggir Sleman Yogyakarta. Tahun 1994 menjadi guru PAI di SMP N 2 Moyudan. Kemudian tahun 1996 dimutasi di SMK N 1 Tempel Sleman. Dan sejak 1 Mei 2015 menerima SK untuk melaksanakan tugas pengawas di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman. Hobby membaca sejak kecil dulu suka membaca majalah BOBO,  KAWANKU, ESTAFET, AL MUSLIMUN.  Di SMK N 1 Tempel membina dan  mengelola majalah sekolah FORTUNE. Pernah menjadi guru berprestasi tingkat nasional Kementerian Agama tahun 2008 dan menjadi guru berprestasi tingkat nasional  jenjang SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013. Pengalaman menulis buku :

-                 Nilai-nilai Edukasi Ibadah Haji dan Tragedi Crane

-                 Menjadi Guru Pembelajar PAI dengan Cara Mencintai Ilmu

-                 Dedikasi Pengawas Era 4.0 ( Antologi Pengawas )

-                 Kupenuhi Panggilan-Mu ( Antologi )

-                 Kenangan di Baitullah ( Antologi )

-                 Membangun Karakter Peserta Didik dengan Pembelajaran Berbasis Edutainment 

       Masa PJJ

Juga menulis di media pendidikan SEMBADA  Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman serta di Majalah BAKTI Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY